Pengertian, Biota, Adaptasi Organisme Laut Dalam



BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penelitian  akan perairan laut dalam hingga saat ini masih sangat sedikit. Ini diakibatkan oleh kondisi di daerah laut dalam  yang sangat ekstrim. Menurut para ahli yang telah mencoba untuk mengungkap rahasia laut dalam, dikatakan bahwa lebih mudah meneliti bagian luar angkasa yang hampa udara dibanding meneliti perairan laut dalam dengan tekanan yang begitu tinggi. Dulu, sampel dari laut dalam diperoleh dengan alat berupa jaring/pengeruk besar yang dioperasikan dari atas kapal oleh tali penghubung yang sangat panjang (diperlukan tali dengan panjang 2-3 kali dari titik kedalaman yang akan diteliti) Kini penelitian bisa dilaksanakan dengan ROV (Remotely Operated Vehicle) dan kapal selam.

Defenisi Laut dalam adalah Seluruh zona yang berada di bawah zona eufotik (zona bercahaya), mencakup zona batipelagis, abisal dan hadal (Nontji,2002). Bagian dari lingkungan bahari yang terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka dan lebih dalam dari paparan benua (>200m) (Nybakken,1982).

Keadaan lingkungan laut dalam sangat gelap dan dipastikan hampir tidak ada proses fotosintesis. Organisme yang hidup di perairan ini merupakan organisme yang sangat hebat, karena dapat bertahan hidup dengan kadar oksigen yang sangat minim. Sumber makanan organism laut dalam biasanya berasal dari hujan plankton atau partikel organik lain, jatuhan bangkai hewan besar atau tumbuhan, bakteri berlemak yang mudah dicerna (rata-rata populasi bakteri 2mgC/m2), dan bahan organik terlarut.

1.2 Tujan
Tujuan kelompok kami membuat makalah ini adalah untuk  menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Tim Dosen Biologi Perairan.

1.3 Manfaat
Manfaat membuat makalah ini adalah menambah pengetahuan kami dan setiap orang yang membaca makalah ini mengetahui jenis- jenis  organisme yang hidup di laut dalam serta proses adaptasinya.


BAB IITINJAUAN PUSTAKA

 2.1 Wilayah Laut Dalam

  • 85% dari luas dan 90% dari volume seluruh permukaan bumi yang tertutupi air

  • 75% dari wilayah laut, terletak di kedalaman > 3.000 meter

  • Palung dengan kedalaman > 6.000 meter (terdapat 22 palung di dunia)

  • Palung terdalam: Palung Mariana mencapai 11.022 meter

  • Ekosistem unik: Hydrothermal vents, Cold hydrocarbon seeps dan lapisan pemberai dalam

2.2 Kondisi Lingkungan Laut Dalam
Cahaya pada lingkungan laut dalam umumnya redup – gelap gulita, sehingga tidak ada proses fotosintesis sehingga sangat jarang ditemukan tumbuhan. Tekanan hidrostatis Meningkat secara konstan sebanyak 1 ATM (1 kg/cm2), setiap pertambahan kedalaman 10 meter. Sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan hidrostatisk yang bekerja di laut dalam sangat ekstrim. Suhu Umumnya seragam, dengan kisaran 1 – 3oC (kecuali wilayah hydrothermal vents (>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1 oC). Salinitas Umumnya seragam (35 ppm), pada daerah cold hydrocarbon seeps (hipersain = 40 permil). Sirkulasi air Sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografi dasar laut.

Untitled


Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam. Kadar Oksigen Cukup untuk menghidupi seluruh organisme di laut dalam (DO= 4% s/d 6%; di perairan eufotik, DO= 3.5% s/d 7%). Sumber oksigen utama: air permukaan laut di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen . Air bersifat anoksik: Teluk Kau (Halmahera), Palung Carioca (Venezuela), Palung Santa Barbara (USA). Tipe substrat di laut dalam terdiri atas substrat yang halus, substrat berbatu di daerah mid-ocean ridge.


2.3 Suplai Makanan

Bergantung pada pakan yang diproduksi di tempat lain dan terangkut oleh proses hidrodinamis ke wilayah laut dalam.Hujan plankton atau partikel organik lain, jatuhan bangkai hewan besar atau tumbuhan, bakteri berlemak yang mudah dicerna (rata-rata populasi bakteri 2mgC/m2), dan bahan organik terlarut.

2.4 Biota dan Adaptasi Laut Dalam
Komposisi biota laut dalam beserta biomassanya didominasi detritus feeder, yaitu:

  • Sepon (porifera)

  • Teripang (Holothuroidea)

  • Bintang laut (Asteroidea)

  • Anemon laut (Anthozoa)

  • Karang (Anthozoa)

  • Polychaeta (Annelida)

  • Echiura dan Sipuncula

  • Kima (Molusca)

  • Crustacea

2.5 Pembagian Daerah ( Zonasi ) di Laut Dalam
Berdasarkan keadaan cahaya yang terdapat dalam laut, secara vertikal laut dibagi menjadi 3 zona. Zonasi ini dapat memiliki rentang kadalaman yang berbeda menurut kondisi geografis laut yang bersangkutan : Batas bawah zona fotik di laut tropis s/d 200 meter, Batas atas zona batipelagis di laut subtropis-dingin mulai dari 150 meter.

1. Mesopelagis

Penghuni mesopelagis (150-1.000 meter) warna hewan umunya: abu-abu keperakan atau hitam (ikan), ungu kelam (ubur-ubur) dan merah (crustacea). Mata besar dan penglihatan senja (tingginya pigmen rodopsin dan kepadatan sel batang pada retina  memberi kemampuan maksimum dalam melihat dan mendeteksi cahaya). Bioluminusens kemampuan memproduksi cahaya pada makhluk hidup, biasanya dilengkapi oleh organ penghasil cahaya (fotofor), mulut besar, morfologi mulut, rahang, gigi yang mendukung efektifitas penangkapan mangsa. Mekanisme produksi cahaya telah diketahui dari penelitian-penelitian terhadap hewan-hewan terstrial seperti kunang-kunang dan mekanisme yang sama digunakan oleh organism akuatik. Spektrum warna yang dihasilkan berbeda menurut spesies, tetapi secara menyuluh meliputi warna-warna yang dapat dilihat oleh mata, dari ungu sampai merah.

2. Pelagis

Penghuni batipelagis dan abisal-pelagis. Ikan wilayah ini berwarna hitam kelam, sedangkan invertebratanya seakan tidak berpigmen (putih cerah). Ukuran mata sangat kecil, bahkan tidak bermata, bahkan ada ang memiliki mata berbentuk pipa (ikan Argyropelecus) dan sebelah matanya lebih besar (cumi-cumi Histioteuthis). Ikan yang ditemukan umumnya berukkuran sangat kecil, namun invertebrata yang hidup umumnya berukuran sangat besar.

3. Dasar Perairan (Bentik) > 1.000 meter

  • Penghuni dasar batial 150/1.000 – 3.000 meter
    Hewan wilayah ini umumnya tidak berwarna atau putih kotor (tidak berpigmen) didominasi oleh bakteri yang berukuran besar.

  • Penghuni dasar abisal 000 – 6.000 meter
    Umumnya tidak berwarna atau putih kotor (tidak berpigmen)

  • Penghuni dasar ultra-abisal (hadal ) kedalaman > 6.000 meter
    Baru sedikit yang diketahui

2.6 Ekoststem Laut Dalam
1. Hydrothermal Vents (deep Oceanic hotsprings)

Ditemukan di mid Ocean ridge (3000 meter) namun ada juga yang berada di laut dangkal,Rentang suhu 5-100oC,Pancaran asap hitam panas —> 250-400oC,Suhu sekitar vents 8-35oC,Ekosistem hydrothermal vents memiliki produktivitas yang cukup tinggi oleh adanya aktivitas kemosintesis bakteri yang hidup bersimbiosis dengan cacing tabung Riftia pachyptila, Karbohidrat yang dihasilkan bakteri berfungsi bagi hewan agar dapat hidup di lingkungan yang ekstrim suhunya ,Kemosintesis yang dilakukan memanfaatkan H2S yang tersedia melimpah dari Vents dengan persamaan kimia: CO2 + 2H2S ® (CH2O) + H2O + 2S.

2. Cold hydrocarbon seeps (aliran hidrokarbon dingin)

Ditemukan di daerah pinggiran benua,Dicirikan dengan aliran es (metan terhidrasi), gas hidrogen sulfida, dan minyak (rantai karbon kompleks) yang diserap dari sedimen pada lapisan kerak bumi,Menyediakan energi melimpah dan kelimpahan hewan yang sangat tinggi (cacing tabung dan kerang),Faktor lingkungan yang berbeda, sangat dingin (hampir membeku).

3. Lapisan pemberai dalam (LPD)

Merupakan pusat aneka jenis hewan meso/bati-pelagis yang terbentuk terutama oleh berbagai jenis ikan, crustacea, cumi-cumi dan sphonophora. Komposisi berbeda menurut letak geografisnya. Pada siang hari bisa terdapat dua sampai tiga LPD antara kedalaman 200-700 meter. Pada malam hari lapisan bergerak ke permukaan dan menebal kemudian kembali ke perairan dalam pada pagi hari. LPD telah ditemukan di seluruh samudra di dunia, kecuali samudra Arktik (kutub utara). Perkembangan LPD yang paling baik adalah di daerah yang produktivitasnya lapisan airnya tinggi.

4. Parameter fisika air umumnya seragam (suhu, salinitas, densitas, kadar O2)

Tekanan hidrosatis yang terus meningkat dengan semakin bertambahnya kedalaman tidak ada tumbuhan yang hidup, Biota: mikrobial dan hewan dengan mekanisme adaptasi tertentu yang bisa hidup, Sumber makanan yang langka, Paling sedikit diketahui dan diteliti (baru 1 % yang telah dieksplorasi dan dipelajari), Tempat pembuangan sampah akhir terbesar di dunia).

2.7 Adaptasi Organisme Laut Dalam
Salah satu adaptasi yang dapat diamati dan yang juga dapat diamati pada hewan-hewan mesopelagik ialah warna. Ikan-ikan mesopelagik khusunya cenderung berwarna bau-abu keperakan atau hitam kelam. Tidak terdapat kontras warna seperti pada ikan-ikan epipelagik. Sebaliknya invertebrata mesopelagik berwarna ungu atau merah cerah. Ubur-ubur mesopelagik misalnya sering kali berwarna ungu kelam, sedang krustasea seperti copepod dan bermacam udang berwarna merah cerah. Karena organism-organisme ini hidup dalam suasana gelap, organism yang berwarna hitam tidak akan kelihatan. Ada organisme yang berwarna merah cerah karena merah adalah warna yang pertama diabsorpsi oleh air laut. Akan tetapi warna merah juga akan tampak hitam di laut dalam.

Adapatasi lain yang dialami oleh organisme laut dalam adalah mata yang besar dan beberapa organ penghasil cahaya. Ikan memperluas permukaan mata hanya salah satu adaptasi saja. Ikan-ikan ini juga memiliki “penglihatan senja” yang peka karena adanya pigmen rodopsin dan tingginya kepadatan retina. Sedangkan di bagian hadal pelagik biasanya memiliki mata yang sangat kecil atau bahkan tidak bermata karena untuk hidup di lingkungan yang gelap gulita mata tidak diperlukan.

Kebanyakan ikan laut dalam mempunyai mulut yang besar, relatif lebih besar dari pada ukuran tubuhnya. Dalam mulutnya terdapat gigi yang panjang dan melengkung ke arah tenggorokan. Dengan demikian gigi-gigi ini menjamin bahwa apa yang tertangkap tidak akan keluar lagi dari mulut.

2.8 Organisme Laut Dalam


1. Ikan Lophiiformes



Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Lophiiformes
Sub ordo : Antennarioidei


Lophiiformes (bahasa Inggris: Monkfish, Goosefish, Anglerfish) adalah ordo ikan bertulang sejati yang umumnya hidup di laut dalam. Habitatnya di Samudra Arktik, Samudra Pasifik, Samudra Hindia, Samudra Atlantik, dan Laut Mediterania. Ikan dari ordo Lophiiformes terlihat mencolok dengan bagian kepala yang besar dan lebar.

Lophiiformes adalah ikan karnivora, mulutnya besar dan bergigi. Ikan dari ordo Lophiiformes ini menyelam hingga ke dasar laut dan agar bisa menyerang ikan lain, mulutnya sedikit menghadap ke atas. Di bagian atas mulut terdapat antena yang bisa digerak-gerakkan sebagai umpan untuk menarik perhatian mangsa. Lophiiformes sering juga naik ke permukaan laut untuk menyerang burung laut.

2. Histioteuthis



Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Chepalopoda
Ordo : Teuthida
Genus : Histioteuthidae


Histioteuthis adalah genus dari cumi-cumi dengan famly Histioteuthidae. Pada  cumi-cumi laut dalam  semua mata kanan berukuran normal, bulat, biru, dan cekung; sedangkan mata kiri dapat mencapai dua kali diameter mata kanan, berbentuk tabung , kuning-hijau, wajah menghadap ke atas, dan tonjolan keluar dari kepala. Mereka tinggal di kedalaman sekitar 1500 ft (500-1.000 meter). Pada saat di dalam air  posisi cumi-cumi ialah lengan-lengannya mengarah ke bawah, sedangkan mata yang besar mengarah vertical ke atas dan mata yang kecil mengarah ke bawah. Dianggap bahwa mata yang besar “mengumpulkan’ cahaya remang-remang dari arah permukaan laut, sedangkan mata yang lebih kecil mengadakan respons terhadap cahaya yang dihasilkan fotofor-fotofor. Telah pula ditunjukkan bahwa pada jenis cumi-cumi lain, yaitu Abraliopsis, timbul respons terhadap cahaya yang datangnya dari arah permukaan laut berupa dihasilkannya cahaya oleh fotofor-fotofor cumi-cumi ini. Intensitas cahaya yang dihasilkan fotofor-fotofor cukup untuk mengimbangi intensitas cahaya yang datang dari permukaan laut. Dengan demikian, cumi-cumi ini tidak akan terlihat bila dipandang dari bawah karena intensitas cahaya yang dihasilkan fotofor-fotofor mencegah terbentuknya bayangan-bayangan hitam.

3. Gurita



Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Chepalopoda
Ordo : Octopod
Sub-ordo : Octopodiformes

Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.

2.9 Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel dari laut dalam dengan alat berupa jaring/pengeruk besar yang dioperasikan dari atas kapal oleh tali penghubung yang sangat panjang (diperlukan tali dengan panjang 2-3 kali dari titik kedalaman yang akan diteliti) Kini penelitian bisa dilaksanakan dengan ROV (Remotely Operated Vehicle) dan kapal selam.


BAB III
KESIMPULAN

Organisme yang hidup di laut dalam harus memiliki daya adaptasi yang tinggi. Contohnya adalah adaptasi yang dapat diamati dan yang juga dapat diamati pada hewan-hewan mesopelagik ialah warna. Ikan-ikan mesopelagik khusunya cenderung berwarna bau-abu keperakan atau hitam kelam. Sebaliknya invertebrata mesopelagik berwarna ungu atau merah cerah. Ubur-ubur mesopelagik misalnya sering kali berwarna ungu kelam. Selain itu hewan-hewan laut dalam memiliki gigi-gigi yang besar. Dalam mulutnya terdapat gigi yang panjang dan melengkung ke arah tenggorokan. Dengan demikian gigi-gigi ini menjamin bahwa apa yang tertangkap tidak akan keluar lagi dari mulut.

Cumi merupakan salah satu organisme laut dalam yang memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan organism laut dalam lainnya contohnya cumi-cumi memiliki 8 tangan dan 2 tentakel, dan tinta yang berfungsi untuk mempertahankan hidupnya.

Cumi-cumi di laut dalam dapat mencapai ukuran yang sangat besar bahkan ada yang dapat mencapai panjang tubuh manusia dewasa. Seiring dengan meningkatnya kedalaman maka dapat mempengaruhi besar tubuh suatu organism. Ini disebut dengan gigantisme abisal.




2 comments:

Biologi Laut | Saling Rindu said...

[…] Zona Intertidal : Pengertian, Tipe Pantai, Adaptasi Organisme, Jenis Organisme dll Zona Interstitial : Pengertian, Organisme, Adaptasi Organisme, Reproduksi Organisme dll Zona Subtidal : Pengertian, Organisme, Adaptasi dan reproduksi organisme, metode pengambilan sampel Estuari dan Rawa Asin : Pengertian, Organisme, Adaptasi dan reproduksi organisme, metode pengambilan sampel Organisme Laut Dalam : Pengertian, Biota dan Adaptasi, Sumber makanan, metode pengambilan sampel […]

Gumilang Rambang said...

numpang copas gan



Powered by Blogger.